Minggu, 03 Mei 2020

seri Corona 75

SANG PENYEMPURNA KEHANCURAN
(Corona 75) Oleh: Emha Ainun Nadjib 

Tulisan kali ini sangat panjang dan harus saya mulai dengan pernyataan Allah: “Apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu semua ummat manusia ini secara atau untuk main-main saja? Dan apakah kamu mengira bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (Al-Mu`minun).

Awalnya saya hanya ingin menggembirakan siapapun yang membaca tulisan ini. Saya selalu menanyakan dan meminta pusat penggiat Maiyah dan semua Simpul untuk mengidentifikasi dan memastikan seberapa Covid-19 menjangkiti atau memapari Jamaah Maiyah. Beberapa waktu yang lalu salah seorang anak Maiyah saya di Negeri jauh yang bertugas sebagai perawat kesehatan atau tenaga medis melaporkan diri positif Corona. Ia masih muda dan berita terakhir kemarin terkonfirmasi bahwa ia sudah pulih dan sembuh seperti semula. Seorang Pilot internasional yang juga aktivis Maiyah melaporkan temannya terpapar juga di Spanyol, tapi dengan isolasi diri akhirnya pulih sehat walafiat kembali.

Secara keseluruhan sampai kemarin sore Jamaah Maiyah Zero-Corona. Sebenarnya tidak mudah menuliskan ini, sebab informasi seperti itu berposisi syubhat. Ia bisa merupakan tahadduts binni’mah, memperbincangkan kenikmatan Allah, tapi bisa juga terpeleset menjadi riya` atau takabbur. Harus kita teguhkan bahwa ini adalah ungkapan syukur atas nikmat Allah. Juga harus disadari bahwa ini “permainan” sedang berlangsung, itu pun tanpa mengerti seberapa lama akan berlangsung. Padahal kebenaran informasi baru akan utuh dan final tentang keterpaparan Covid-19 adalah kelak sesudah seluruhnya reda di seluruh dunia.

Kegembiraan lain coba dihembuskan oleh banyak berita offline maupun online bahwa jumlah pasien Corona yang sembuh semakin banyak, dan itu dilogikakan sebagai gejala akan semakin dekatnya akhir dari penderitaan oleh Corona. Aslinya hal ini tidak mengagetkan karena sejak awal hadirnya Corona, angka kematian yang diakibatkan hanya sekitar 2-3% sd 8-9%. Berarti angka kesembuhan di atas 90%. Wajar kalau jumlah yang sembuh semakin banyak. Yang mungkin lebih logis untuk diasumsikan sebagai gejala semakin menyurutnya derita Corona adalah kalau jumlah kasus keterpaparannya menurun, syukur sampai prosentase Nol seperti di Wuhan sendiri – meskipun bisa tetap akan ada gelombang kedua.

Sedangkan di Indonesia urusan Corona ini kenaikannya permanen dan setia. Sore ini ada tambahan 283 kasus keterpaparan sehingga jumlah keseluruhan menginjak angka 7.418.

Sesungguhnya sejak sebulan yang lalu, 20 Maret 2020, kegembiraan nasional sudah digelar oleh berita: “Presiden bilang bahwa obat untuk pasien Corona sudah disiapkan oleh Pemerintah. Obat Corona sudah ada dan beliau sudah pesan sebanyak 2 juta, sementara yang terpapar virus mengerikan ini sampai hari ini baru tujuh ribuan lebih sedikit, jadi mesti bereslah semua ini. Beliau menyebut obat virus Corona itu namanya Avigan dan Cloroquine. Bahkan disempurnakan juga kabar gembira itu bahwa beliau sudah bagi-bagi obat Corona, sampai ada yang dari pintu ke pintu diantarkan.”

Tetapi kabar gembira itu dihapus sendiri oleh penyebarnya sebulan kemudian pada 18 April 2020. “Presiden menyatakan bahwa obat Corona belum ada, maka kita harus mengandalkan kedisiplinan dan semangat saling bantu-membantu melawan Corona. Tetapi saya berhasil menggagalkan rasa kecewa saya, karena peribahasa Jawa “esuk dele sore tempe” sudah lazim berlaku secara menyolok selama pemerintahan Negara kali ini. Apakah kalau pagi bilang kedelai tapi faktanya di sore hari ternyata tempe, itu pelanggaran konstitusi? Tidak. Ini NKRI. Pemimpin can do no wrong. Pokoknya Presiden pasti benar, tidak mungkin salah. Kalau kamu membantah, kamu akan saya hajar dan dihajar orang banyak di medsos, ngapsos maupun lètsos. 

Akan tetapi berikutnya saya semakin gagal mewujudkan niat untuk membikin para pembaca bergembira. Saya didatangi tamu tanpa masker dan membombardir saya dengan informasi bertubu-tubi, yang saya singkat menjadi tiga poin.

Pertama, jangan bermimpi menunggu redanya Corona ini seminggu-dua minggu, sebulan-dua bulan, setahun-dua tahun, 2022 atau 2025. Semua rakyat Indonesia bahkan seluruh penduduk Bumi harus mulai belajar untuk menerima virus Corona, sebagaimana virus flu yang lebih ringan, sebagai anggota keluarganya yang permanen dan sah. Harus siap bahwa Covid-19 ini tidak akan pernah sirna sampai selamanya, terutama karena kreativitasnya sangat tinggi untuk bermutasi dan melakukan penyesuaian diri, mengubah wujud dan perannya terus menerus sedemikian rupa.

Tamu yang pertama ini kemudian menyerbu kekurangajaran manusia di Bumi. “Mereka semua sudah tahu bahwa global climate, perusakan lingkungan hidup, keserakahan mengeruk kekayaan bumi, pasti akan membawa kehancuran pada peradaban manusia. Tetapi mereka tidak mau berubah sedikit pun dari kerakusannya. Mereka tetap melakukan ketidak-seimbangan kehidupan antara manusia dengan alam maupun antar kelas-kelas manusia sendiri. Tuhan mengingatkan “Kalian pikir Aku main-main menciptakan kalian, alam dan bumi ini? Terus kalian akan lari ke mana kecuali kembali kepada-Ku”, sebagaimana yang saya kutip di awal tulisan ini. Kalian seharusnya melakukan restarting peradaban, rebooting kehidupan cara mencapai penghidupan. Karena yang sudah terlanjur berkuasa dan kaya selalu menolak perubahan, maka sekarang ada kiriman Corona agar restart peradaban itu diwujudkan. Terserah manusia mau atau tidak. Atau barangkali manusia maunya hanya restart dari kerakusan lama menuju kerakusan baru. Reboot keserakahan lama untuk membangun sistem keserakahan baru.

Kemudian belum bangun saya dari terbanting-banting, datang tamu lain tanpa masker juga menambah penderitaan hati saya. Ia ngebom juga: “Manusia di dunia sedang harus mengalami perubahan peradaban yang mendasar. Untuk itu jer basuki mawa bea-nya adalah kemusnahan separuh penduduk dunia. Yang 15% dibunuh oleh wabah. Yang 10% mati karena khaos, bunuh-membunuh. Yang 25% bencana alam dari gempa bumi, tanah longsor, badai es hingga super-tsunami. Kamu tahu cacing-cacing yang keluar dari tanah itu. Pusatnya bukan di Pasar Gede, melainkan di sekitar bangun di pojoknya yang sejak sekian abad silam berfungsi Jaga Negara. Itu informasi bahwa akan terjadi bencana alam tidak kecil, dan pusatnya adalah kota tempat kelahiran Sang Penyempurna Kehancuran. Yang wajar dipilih oleh rakyatnya yang memang tidak waspada dan main-main dalam ber-Negara”.

“Dan masa kejayaan dan kehancuran itu Kami pergilirkan diantara manusia agar mereka mendapat pelajaran; dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman dengan orang-orang kafir supaya sebagian kamu dijadikan-Nya gugur sebagai syuhada’. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang dhalim.” (Ali Imran)

Siapakah Kepala Negara, ilmuwan atau tokoh apa pun yang selama perkara Corona itu mengeluh dan minta tolong kepada Tuhan? Paling jauh para ahli menegaskan: Corona ini bukan hasil rekayasa Lab Negara tertentu. Ini peristiwa alam biasa. Dan alam yang dimaksud di situ adalah alam yang sanggup menciptakan dirinya sendiri. Tidak ada faktor Tuhan.

Tetapi semua itu simpang siur bagi penduduk awam dunia seperti kita. Pemimpin spiritual bangsa Iran Ayatollah Khomeini dalam pidato Nisfu Sya’ban memberi sejumlah uraian yang kontroversial dari satu sisi, memantapkan dari sisi lain, tetapi jelas menggetarkan bagi semuanya:

“Seluruh ummat manusia tentang kehadiran seorang imam atau pemimpin dunia yang mampu menjadi juru selamat. Juru selamat yang datang atas kehendak Allah. Yakni Imam Mahdi. Pemimpin yang dapat menyatukan semua manusia, membebaskan dari ketersiksaan duniawi, juru selamat bagi semua agama.”

“Saat ini, ummat manusia menderita kemiskinan, penyakit, ketidakadilan, dan perpecahan kelas yang luas. Dan, manusia menyaksikan penyalahgunaan sains, penemuan, dan alam oleh kekuatan dunia. Ini telah menyebabkan keletihan dan frustrasi ummat manusia dan keinginan mereka untuk penyelamat, tangan yang menebus.”

“Ada kebutuhan akan kekuatan spiritual dan ilahi; tangan yang kuat dari Imam yang sempurna (semoga Tuhan mempercepat kedatangannya). Kebijaksanaan manusia adalah berkah luar biasa yang dapat memecahkan beberapa masalah tetapi tidak semuanya. Sebagai contoh, hari ini ilmu pengetahuan melayani ketidakadilan dan penghasut perang di dunia. Semua agama telah berjanji akan datangnya seorang Juru Selamat. Dalam Islam, orang-orang diminta untuk menunggu Juru Selamat. Menunggu bukan berarti duduk santai; menunggu berarti memiliki harapan dan persiapan. Itu berarti mengambil tindakan.”

“Untuk sekadar diketahui, dunia saat ini memang sedang gonjang-ganjing. Saat ini dunia sedang dilanda wabah Virus Corona atau COVID-19, virus ini telah menjangkiti 1,5 juta manusia dan membunuh 88 ribu orang. Belum lagi peperangan juga masih terjadi di sejumlah negara, seperti Suriah, Libya, Afghanistan dan lainnya.”

“Sejak Virus Corona meledak di Wuhan selalu ada dua pendapat pemikiran yang berkembang. Banyak akhli terutama para ahli lingkungan yang selana ini tidak pernah didengar oleh aparatus globalisasi yang melontarkan bahwa Virus Corona adalah virus yang lahir dari tabiat manusia yang suka merusak alam.”

“Sedangkan pikiran lain virus ini adalah merupakan hasil rekayasa manusia. Biasanya pikiran ini sejalan dengan analisis konspirasi yang digunakan. Kalau aku lebih percaya bahwa Covid-19 lahir karena tabiat manusia. Sedangkan herd immunity kalau ahli kesehatan pasti akan menjawab itu tak mungkin, tetap butuh teknologi. Kecuali kalau sistem kehidupan kita sehari-hari masih berlangsung secara komunal seperti minum jamu, mengkonsumsi rempah-rempah, empon-empon itu bisa menjadi ketahanan komunitas dari serangan virus.”

“Sudah didiskusikan pada tahun 2015, ini tidak boleh dilakukan. Ada dua ilmuwan utama yang mengatakan ini tidak boleh dilakukan. Virus ini bukanlah fenomena yang terjadi secara natural. Ini sangatlah penting dan saya akan memberi buktinya.”

“Kamu harus bersikap cermat, sadari ada agenda di balik ini semua. Jangan dikalahkan oleh ketakutan, karena ini merupakan satu paket dari agenda mereka.”

“Virus ini dilabeli sebagai senjata biologis oleh beberapa orang. Dan tentu saja media mainstream menyatakan itu adalah teori konspirasi. Tapi mari kita lihat sama-sama konfigurasi dari virus covid 19 ini.”

“Yang mau saya jelaskan adalah ini bukan karena seseorang memakan sup kelelawar atau berpindah dari ular, kungkang atau hewan lainnya. Virus ini bukanlah sesuatu yang terbentuk dari alam. Ini sangat penting dan saya akan menunjukkan pada kalian buktinya.”

“Virus ini sebenarnya diciptakan di universitas North Carolina Chapel Hill dan mereka menerbitkan hasil hasil penting penelitiannya pada november 2015. Daftar dari para peneliti yang diasosiasikan sebagai virus “frankenstein”. Kamu bisa lihat nama Zheng Li Shi yang mewakili laboratorium spesialis patogen dan biosafety, institut teknologi Wuhan China. Dr Shi adalah sosok sangat penting di sini. Dari tahun 2014 dr. Shi menerima berbagai pendanaan dari Pemerintah USA. Juga dari program Nasional Basic research China. Akademi science China, badan nasional natural science China program penelitian prioritas, akademi ilmiah China. Untuk membantu mendanai penelitian Corona Virus.”

“Ingat ini pada tahun 2015. Pemerintah Amerika mendanai dr. Shi serta pemerintahan China untuk mendanai penelitian berbagai macam Coronavirus. Ini diterbitkan pada tanggal 12 November 2015 dan ini adalah dokumen artikel penuhnya. Tapi yang ingin saya kemukakan di sini, pada bulan maret 2020 ini ditambahkan catatan di artikel ini oleh editor nya. Saya akan membacanya dan kemudian saya membandingkannya dengan penelitiannya dan tentukan sendiri maksudnya.”

“Catatan dari editor ini mengatakan kami menyadari bahwa cerita ini digunakan sebagai dasar dari teori yang belum diverifikasi. Dimana novel Coronavirus yang menyebabkan Covid-19 adalah buatan manusia. Tidak ada bukti bahwa ini benar. Para peneliti percaya bahwa binatang adalah yang paling mungkin menjadi sumber dari Coronavirus.”

“Jelas sekali siapapun yang menulis catatan editor ini adalah antara seorang yang idiot atau orang yang tidak memahami bahasa inggris. Tapi sudah pasti bukan seorang peneliti. Saya akan menunjukkan kepada Anda apa yang sesungguhya dinyatakan di penelitian ini. Perlu diingat ini adalah peringatan agar orang mengabaikan penelitian ini. Untuk mencegah orang agar tidak melihat lebih jauh tentang penelitian ini untuk mengatakan padamu; lihat, langit itu tidak biru. Ya itu memang terlihat biru tapi sebenarnya tidak biru.”

“Pada November 2015 sebuah penelitian yang menciptakan versi hibrida dari Coronavirus dari kelelawar. Jenis yang berhubungan dengan Virus SARS. Seperti yang kita bahas sebelumnya memancing perdebatan tentang apakah laboratorium rekayasa virus yang mungkin dapat menyebabkan pandemik memiliki risiko yang sepadan.”

“Ini adalah bagian terpenting: disebutkan di parqgaraf pertama dari penelitian ini dipublikasi di “nature”, yang mana adalah salah satu jurnal publikasi paling dihormati di dunia. Walaupun hampir semua Coronavirus yang diisolasi dari kelelawar tidak dapat mengikat pada reseptor di tubuh manusia, yaitu SHC014, yang merupakan jenis spesifik Coronavirus yang sedang kita bicarakan. Tidak dapat berkembang di tubuh manusia. Sekali lagi ini adalah hasil penelitiannya. Kamu membaca sesuatu dan mereka mengatakan apapun yang kamu baca bukanlah hal itu. Eksperimen di penelitian ini, menunjukkan bahwa virus dalam kelelawar liar ini harus berevolusi dahulu baru bisa membahayakan manusia.”

“Virus ini perlu berevolusi dulu, perlu berubah, dan akan membutuhkan waktu. Perubahan yang mungkin tidak akan pernah terjadi walaupun tidak dapat diabaikan. Baric dan tim nya merekontruksikan ulang virus liar ini dari rangkaian genomnya, dan menemukan bahwa virus ini sulit sekali bertumbuh pada kultur sel manusia. Dan tidak menyebabkan penyakit serius pada tikus.”

“Oke kita melihat virus yang ditemukan dari kelelawar dan sulit sekali untuk berpindah ke manusia. Dan kalau pun sudah beradq di manusia kultur sel manusia virus ini sangat buruk pertumbuhannya. Dan pada tikus lab, tidak menyebabkan penyakit serius apa pun. Dampak satu-satunya penelitian ini adalah terciptanya di lab sebuah risiko baru yang tidak natural. Menurut Richard Ebright, pakar biologi molekul dan pertahanan biologis Univ Rutgers, Piscatawhy, New Jersey. Tapi untuk apa kamu merekayasa suatu virus demi membuatnya berbahaya. Apa tujuan nya , mereka mengatakan ini untuk tujuan penelitian. Kita harus melawan pemerintahan yang melakukan kegilaan dengan mengambil keuntungan sebuah krisis. Ini adalah bagaimana kebebasanmu akan mati. Bangkitlah Amerika dan lawanlah.”

“Departemen kehakiman mencari otoritas baru di tengah pandemi Coronavirus. Ini permasalahannya, inilah yang harus kita takutkan. Di mana pemerintahan akan menggunakan kejadian bohongan ini, membesar-besarkannya dan mengambil lebih banyak lagi hak-hak orang, kebebasan, dan membuat suatu tindakan mandatori yang harus ditaati setiap orang dari karantina. Sampai pada hal yang mengerikan lagi. Jadi kamu harus sangat berhati-hati. Hati-hati terhadap agenda dibaliknya!”

“Jangan dikalahkan oleh ketakutan, karena ini merupakan satu paket agenda mereka. Virus ini adalah virus yang lemah mereka akan langsung mati oleh sistem imunmu. Tidak akan menginfeksimu dan jika memang iya, efeknya akan sangat sangat singkat. 24 sampai 48 jam mayoritas orang akan merasa lebih baik.”

“Dalam kehidupan pribadi, politik dan sosial masyarakat, lembaga atau organisasi dan bahkan revolusi, biasanya menghadapi dua jalan berbahaya; jalan transenden atau kemunduran.”

“Satu jalan adalah jalan transenden, sementara jalan yang lain adalah kemerosotan. Penggerak akal, hikmah, hidayah dan spiritual membawa mereka ke puncak atau daya tarik materi menurunkan mereka ke arah keinginan hina materi. Dua jalan ini biasanya dalam satu periode tertentu berada di hadapan orang dan pribadi manusia, juga organisasi, sebagaimana yang saya jelaskan, juga di hadapan revolusi, di mana sebagian revolusi dan perubahan besar politik dunia dimulai dengan baik dan tumbuh juga dengan baik, tapi dalam satu periode sensitif berada dalam kemerosotan dan kejatuhan. Dua jalan ini bagi masyarakat dan Negara kita sudah pasti terjadi dalam periode pasca Pertahanan Suci… Tapi Sepah Pasdaran dalam periode ini berhasil tampil sebagai pemenang, Sepah tidak terkena keletihan dan kemunduran, berhasil mempertahankan elemen politik identitasnya dan bergerak menujuk transenden.”

Mungkin kita masih berkutat di kekerdilan sikap seperti ini: “Itu kan pemimpin Syi’ah. Syi’ah kan bukan Islam”. *****

[Baca selengkapnya — https://bit.ly/2zol0Mm]

seri Corona 76

MANA PARA PEWARIS NABI?
(Corona 76) Oleh: Emha Ainun Nadjib

Selama menjalani “Tirakat Corona” ini kita sebisa-bisa mencari dan menerima apa saja yang bisa menerbitkan kegembiraan hati, semangat menjalani keprihatinan, menguatkan mental, serta memperpanjang rentang panjang jalan harapan.

Lebih 60 tulisan saya selama Corona mengandung rentang atau polarisasi dengan gradasinya, eksplisit maupun implisit — antara pandangan atau peta pemahaman yang Tuhan ada di dalamnya dengan yang tidak. Motivasi utamanya semata-mata karena hanya dengan adanya Tuhan serta peran-Nya maka manusia masih punya harapan. Kalau hidup hanya seperti yang selama ini kita jalani di dunia, meskipun ada banyak kemewahan di Mal, ada Liga Sepakbola, ada Maiyahan atau main kartu — dan kini dunia dihadiri virus yang sedemikian menyiksa, lantas tidak ada Alam Barzakh, tidak ada Malaikat Munkar Nakir, Raqib Atid dan semuanya terutama Baginda Jibril, tidak ada alam Akhirat – terus apa enaknya kehidupan ini?

Jelas manusia tidak mampu menciptakan kehidupan, sebab kalau mampu — pasti sekarang sudah mereka daur ulang semuanya. Maka pastilah ada yang Maha Pencipta yang pasti bukan manusia, dan untungnya kita tergolong yang meyakini itu. Bagi kita sesuatu yang paling tidak rasional atau sama sekali tidak masuk akal adalah kalau alam ada dengan sendirinya, kalau makhluk menciptakan dirinya sendiri, kalau manusia adalah segala-galanya, kalau kehidupan ini milik kita dan bukan milik siapapun lainnya — sebagaimana demikian pemahaman dan pernyataan yang kita peroleh dari Kehidupan dan Peradaban Manusia Modern sampai hari ini.

Tidak perlu menggunakan penjelasan yang ruwet. Bahasa jelasnya adalah bahwa arus besar kehidupan manusia di muka bumi dengan segala praktik politik, kekuasaan, teknologi dan kebudayaannya — adalah kehidupan Kafir, Musyrik dan Munafik. Pengingkaran atas Tuhan, atas ada-Nya maupun aturan-Nya. Ketidaktegasan menomorsatukan atau mengakui keutamaan Allah. Atau berpura-pura mengutamakan-Nya dalam ibadah-ibadah formal namun menyelingkuhi-Nya dalam praktik sosial, budaya, politik dan peradaban.

Setelah berkali-kali memberi contoh tentang fakta kekafiran, kemusyrikan dan kemunafikan itu dengan mempertanyakan “Siapa pemimpin Negara dan dunia yang di tengah Corona ini ingat Allah dan meminta tolong kepada-Nya” — dalam tulisan sebelum ini saya kutipkan sebagian pidato pemimpin spiritual Iran yang terang-terangan memohon kepada Allah Swt agar berkenan mempercepat datangnya Imam Mahdi. Imam Khamenei sangat jelas pernyataan dan logika berpikirnya tentang asal-usul Coronavirus.

Seorang sesepuh Maiyah dari Kudus yang juga seorang aktivis Nahdliyin menulis dan dikirimkan kepada saya: “Dunia masih memperdebatkan Apakah Covid itu asli atau rekayasa, namun kesengsaraan sudah melanda dan menjadi fakta. Banyak saudara kita yang sudah kelaparan dan tidak tahu harus berbuat apa. Tali-temali permasalahan yang kompleks membuat Negara gagap merespons, sehingga sulit dipahami ujung pangkal kebijakannya. Agama sebagai benteng terakhir berserah diri juga belum memberikan kedamaian. Sebagian malah ikut membumbui kecemasan. Astaghfirullah….Ya Rabbi… Jika semua sudah buntu, kemana lagi kami minta pertolongan. Bahwa sekian lama kami menyakiti-Mu adalah benar. Bahwa Lidah kami penuh nanah dosa sehingga tidak layak mengucapkan doa adalah benar. Namun saya yakin Rahman Rahim-Mu jauh lebih besar… Ijinkan kami bersimpuh di hadapan-Mu…Mohon petunjuk-Mu untuk kedamaian bumi-Mu. Mohon kami diberi kesempatan untuk bertaubat agar bisa yadkhuluna fi dinika afwaja”.

Kemudian beliau menuntaskan: “Dalam situasi seperti ini, yang harus mengambil alih komando adalah Rijalul-ghaib, para Wali dan para ‘Arifin”. 

Sangat sehaluan dan segelombang dengan pemimpin Syi’ah Iran yang saya kutip juga itu: “Seluruh umat manusia sedang mengharapkan kehadiran seorang Imam atau pemimpin dunia yang mampu menjadi juru selamat. Juru selamat yang datang atas kehendak Allah. Yakni Imam Mahdi. Pemimpin yang dapat menyatukan semua manusia, membebaskan dari ketersiksaan duniawi, juru selamat bagi semua Agama. Saat ini, ummat manusia menderita kemiskinan, penyakit, ketidakadilan, dan perpecahan kelas yang luas. Dan, manusia menyaksikan penyalahgunaan sains, penemuan, dan alam oleh kekuatan dunia. Ini telah menyebabkan keletihan dan frustrasi ummat manusia dan keinginan mereka untuk dianugerahi seorang Penyelamat, tangan yang menebus”.

Tema “menderita, kemiskinan, ketidakadilan dan perpecahan kelas” adalah arena perbincangan tersendiri yang sangat-sangat luas, yang pada akhirnya harus kita dalami juga. Tetapi gelombang ini tidak hanya bergolak di Iran, tetapi juga di Jawa daerah para Wali. “Ada kebutuhan akan kekuatan spiritual dan Ilahi; tangan yang kuat dari Imam yang sempurna. Semoga Tuhan mempercepat kedatangannya”. Semua agama telah berjanji akan datangnya seorang Juru Selamat. Dalam Islam, orang-orang diminta untuk menunggu Juru Selamat. Menunggu bukan berarti duduk santai; menunggu berarti memiliki harapan dan persiapan. Itu berarti mengambil tindakan”.

Teman-teman Syi’i sungguh-sungguh sangat menantikan perkenan Allah mempercepat di-tanazzul-kannya Imam Mahdi. Hal ini juga bukan sesuatu yang dibantah atau diingkari oleh Kaum Sunny, yang jumlahnya amat sangat banyak bergerombol dan berkerumun di Tanah Air Nusantara sejak lebih setengah milenium yang lalu. Di masyarakat Barat sebutannya “Messiah”. Di Jawa dikenal sebagai “Ratu Adil” atau terkadang lebih romantis dipanggil “Satria Piningit” dan “Satria Pinilih”. Di kalangan Jamaah Maiyah dielaborasi pemahamannya dengan menggali pemahaman lengkapnya: “Sinisihan wahyu”. Sesepuh Maiyah Kudus di atas memakai istilah mafhumiyah “Rijalul Ghaib”. Semacam lelaki, ksatria, pahlawan yang didatangkan secara ghaib dari langit. Penamaan itu tidak salah meskipun lazimnya Imam Mahdi dalam khazanah Islam sudah diinformasikan oleh Rasulullah Saw bahwa Namanya sama dengan beliau, yakni Muhammad bin Abdullah. Berarti “ghaib dari langit” adalah — kalau Jawa: wahyunya, sertifikatnya, ndaru-nya, “cumlèrèt tiba nyemplung” Bumi.

Sebuah spanduk di Yogyakarta pada tahun 2014 menulis bahwa Presiden yang terpilih pada waktu itu adalah “Satria Piningit”. Kita tidak akan tahu persis siapa yang bikin spanduk atau poster itu. Merupakan informasi ghaib ataukah alat kepentingan untuk memenangkan kontes Pemilihan Presiden. Wallahu a’lam. Mudah-mudah ini tidak tergolong yang dimaksud oleh ancaman Allah “afahasibtum annama khalaqnakum ‘abatsan”. Kamu pikir Aku bikin manusia untuk main-main?

Kalau ternyata itu serius, tinggal kita teruskan logikanya. Misalnya, berarti menyebarnya Coronavirus ini adalah tahap strategi “Satria Piningit” sendiri? Bagian dari pelaksanaan tugas Imam Mahdi, Ratu Adil atau Rijalul-Ghaib sendiri? Sebagaimana Covid-19 memang ghaib dari capaian ilmu manusia sampai yang paling mutakhir dan modern?

Jadi sekarang sebaiknya kita meneruskan stres, linglung, atau memulai bergembira karena ada harapan?

Kalangan apapun dari Kaum Muslimin dan rakyat Indonesia yang awam sebagaimana saya dan Jamaah Maiyah, yang tidak ekspert pengetahuan dan ilmu Islam, yang tidak mengerti sanad dan matan, yang tidak kompeten atas Agama, Islam, Syariat, Sorga dan neraka — hari-hari ini hanya bisa mendambakan peran para Pewaris Nabi. Yakni beliau-beliau, para Ulama, Kiai, Ustadz, yang selama ini rajin mengantarkan Islam kepada kita, yang membuat kita terlalu hafal kata Bid’ah, syirik dan Musyrik, kufur dan Kafir, yang sangat ahli menunjukkan kesalahan-kesalahan kita dan memaparkan kebenaran-kebenaran mereka — kini kita tunggu dhawuh-nya. Sungguh kita gadhang-gadhang fatwanya.

Bukan fatwa semacam “ista’inu bis-shabri was-shalat”, cari hikmahnya dan yang semacam itu. Panjengaan semua adalah “Al’Ulamau waratsatul Anbiya`”. Panjenengan adapah pewaris para Nabi. Panjenengan dikabarkan sudah sering pinanggihan dengan Rasulullah saw. Panjenengan yang punya receiver rohaniyah untuk mengakses informasi langit. Mbok Panjenengan semua sowan ke Kanjeng Nabi dan mohon dhawuh dari Beliau. Apapun saja isinya, asalkan itu dhawuh dari Kanjeng Nabi, pengejawentah Nur Muhammad, yang pasti menerangi hati dan kehidupan kita semua. *****

[Baca selengkapnya  —   https://bit.ly/2RVux3V]

seri Corona 77

KUWALAT KANJENG NABI
(Corona 77) Oleh: Emha Ainun Nadjib

Di antara 260 juta keluarga-keluarga Indonesia, di mana pun saja berada, adakah yang mengalami sakit sebagaimana yang diumumkan tentang gejala-gejala keterjangkitan virus Corona, tetapi tidak sepengetahuan dan tidak dalam perawatan Rumah Sakit, yang kemudian meninggal? Menurut para ahli virus Corona sudah mulai menyebar sejak Desember tahun lalu, kemudian masuk Negeri kita sekitar Februari dan Maret. Berarti, dipantau atau tidak, terdeteksi atau tidak oleh verifikasi medis, tidak mustahil virus itu sudah menyebar ke mana-mana. Maka, sekali lagi, adakah keluarga Indonesia yang meninggal tanpa pernah ketahuan sebagai korban Corona? Kalau ada, berapa kira-kira jumlahnya?

Kalau masa inkubasi Corona 14 hari, misalnya awal Maret 2020 ada yang terjangkit, entah terdaftar resmi atau tidak, seharusnya hari-hari ini terdengar banyak kabar tentang orang meninggal di sana-sini. Kalau seorang Doktor dari Malaysia mengatakan bahwa Indonesia adalah bom waktu Corona, maka ratusan atau ribuan orang mati se-Indonesia itulah mungkin wujudnya atau faktanya.

Sampai hari ini hal itu terjadi atau tidak? Seorang Dokter Maiyah merespon dua hal. Pertama, bandingkan data resmi tentang jumlah yang meninggal berdasarkan laporan Pemda DKI dengan yang resmi nasional. Kedua, bom waktu itu mungkin belum terjadi, karena pusat grosir Corona di Indonesia adalah Jakarta. Butuh waktu untuk menjadi bom nasional.

Karena “bom Corona Indonesia” itu belum meledak, maka saya mencari segala cara untuk membangun kegembiraan dan optimisme. Kemarin sudah disiksa oleh tamu: “jangan bermimpi menunggu redanya Corona ini seminggu-dua minggu, sebulan-dua bulan, setahun-dua tahun, 2022 atau 2025. Semua rakyat Indonesia bahkan seluruh penduduk Bumi harus mulai belajar untuk menerima virus Corona, sebagaimana virus flu yang lebih ringan, sebagai anggota keluarganya yang permanen dan sah. Harus siap bahwa Covid-19 ini tidak akan pernah sirna sampai selamanya, terutama karena kreativitasnya sangat tinggi untuk bermutasi dan melakukan penyesuaian diri, mengubah wujud dan perannya terus-menerus sedemikian rupa.”

Kemudian ditambah lagi oleh tamu dari Solo: “Manusia di dunia sedang harus mengalami perubahan peradaban yang mendasar. Untuk itu jer basuki mawa bea-nya adalah kemusnahan separo penduduk dunia. Yang 15% dibunuh oleh wabah. Yang 10% mati karena khaos, bunuh membunuh. Yang 25% bencana alam dari gempa bumi, tanah longsor, badai es hingga super-tsunami. Kamu tahu cacing-cacing yang keluar dari tanah itu. Pusatnya bukan di Pasar Gede, melainkan di sekitar bangunan di pojoknya yang sejak sekian abad silam berfungsi Jaga Negara. Itu informasi bahwa akan terjadi bencana alam tidak kecil, dan pusatnya adalah kota tempat kelahiran Sang Penyempurna Kehancuran. Yang wajar dipilih oleh rakyatnya yang memang tidak waspada dan main-main dalam ber-Negara.”

Stres parah dan parno dong kita semua. Semalam ada tamu lain lagi yang menganjurkan kita ber-astaghfirullah sebanyak-banyaknya, dan kapan saja ingatan dan kesadaranmu “on”, maka yang pertama harus diingat adalah Allah Swt. “Negara kita ini Kaum Musliminnya terbanyak sedunia. Coba kalian hitung kembali, apakah kehidupan Islam seperti yang kita laksanakan selama inikah yang dulu diaspirasikan oleh Rasulullah Muhammad Saw? Jangan-jangan kita ini bukan Kaum Muslimin, melainkan Kaum Mu’awiyin, yang menomorsatukan kekuasaan dan kemegahan dunia. Kenapa percontohan peradaban yang dirintis oleh Kanjeng Nabi 13 tahun di Madinah tidak pernah dijadikan rujukan utama membangun Peradaban Muslim di Negeri ini, bahkan juga di seluruh dunia? Coba pelajari secara detail sosial budayanya, sistem politik kekuasaannya, perputaran perekonomiannya dll. Jangan-jangan kita ini berabad-abad, utamanya di zaman modern ini, adalah mukadzdzibuna bid-din, pendusta-pendusta Agama. Nah sekarang kita kuwalat oleh cinta suci dan kemuliaan hidup Kanjeng Nabi”.

Saya ingat di Kadipiro Teater Perdikan sedang sibuk latihan drama “Sunan Sableng dan Paduka Petruk” ketika mendadak lantas dipotong oleh Corona. Salah satu yang diungkapkan oleh Sunan Sableng, salah satu tokoh di drama itu adalah bahwa Kaum Muslimin sedunia dan ummat manusia sedang kuwalat oleh Kanjeng Nabi Muhammad Saw. 

"Ummat manusia mengalami kerusakan dan kebobrokan yang tak habis-habisnya. Itu sumber nyata kenapa ummatnya Nabi Muhammad sendiri terus-menerus mengalami kekalahan dan kehinaan di muka bumi sebelah mana pun”.

“Kebanyakan manusia diam-diam berpandangan bahwa Muhammad adalah orang awam, tidak sekolah, bukan cendekiawan atau intelektual. Itu membuat mereka merasa aman ketika sangat minimal menggunakan akalnya, sangat rendah kadar berpikirnya, sangat bias pola pandangnya terhadap kehidupan, terhadap manusia, terhadap Tuhan dan Agama, termasuk terhadap diri mereka sendiri. Seluruhnya itu berlangsung karena mereka aslinya meremehkan Kanjeng Nabi Muhammad.”

“Replikasi atau pewarisan kualitas-kualitas paling rendah dari kemanusiaan. Meskipun sebagian manusia mampu menemukan dan membangun kecanggihan teknologi berkualitas tinggi, pada praktiknya hanya digunakan untuk menebarkan kerendahan dan kehinaan nilai. Bangsa yang dipimpin oleh Paduka Petruk sangat efektif dan ber-speed tinggi untuk meluncurkan keadaan mereka dari Ahsani Taqwim menuju atau menjadi Asfala Safilin. Dari setinggi-tinggi dan semutu-mutu makhluk menjadi serendah-rendah dan sekonyol-konyol makhluk”.

Menurut Sunan Sableng: Semua faktor yang menandai keharusan terjadinya Hari Kiamat sudah lengkap, dan semua itu sekarang sudah berada di sekitar kita, bahkan sudah berlangsung pada diri kita sendiri. Pada hakikatnya, peradaban yang sekarang berlangsung sudah semakin pandai mengkiamatkan dirinya sendiri. Maka kenapa Kiamat tidak segera dieksekusi. Ke mana arah dan di mana ujung perjalanan ummat manusia ini kecuali akan hancur oleh kemewahan duniawi mereka dan kemanjaan mental mereka.

Sunan Sableng menjelaskan, ada hukum alam. Sunnatullah. Kebaikan dan keburukan itu terkait erat dengan keawetan dan kemusnahan. Artinya: berkaitan dengan kehidupan dan kematian. Benih yang terbaik akan hidup lebih awet, benih terburuk akan lebih cepat musnah. Di antara jutaan sperma laki-laki, terpilih satu sel sperma yang terbaik untuk menjadi janin. Di antara jutaan jenis hewan, yang terbaik di antara mereka yang bisa melintasi waktu, lainnya musnah. Itu namanya tathowwur, hukum evolusi.

Menurut Sunan Sableng Tuhan sangat tersinggung kepada manusia karena meremehkan Baginda Muhammad. Tuhan sudah sangat murka kepada kita semua Ummat manusia dan ummat Nabi. Kalau pakai istilah Tuhan sendiri: ghoiril magdlubi ‘ alaihim waladdhollin — kita semua ini adalah Kaum Maghdlubin: makhluk-makhluk yang Tuhan marah kepada mereka atau kita semua. Dimurkai karena tidak maksimal mengeksplorasi anugerah akal dan jiwanya untuk mengenali Tuhan.

“Kita semua ini dimurkai karena terlalu banyak berbohong kepada Tuhan, kepada Nabi dan kepada diri kita sendiri. Terlalu banyak dan terlalu sering menggunakan nama Tuhan, Nabi dan Agama untuk kepentingan-kepentingan keduniaan yang rendah. Misalnya kekuasaan, harta benda, nafsu materialisme dan jenis-jenis kehinaan yang lain. Ummat dan kita semua ini adalah kaum manipulator, pembohong, penipu, pendusta. Di dalam catatan fakta sejarah, jumlah pembunuhan terbanyak, jumlah orang mati terbanyak, adalah karena alasan Agama. Itu yang membuat Tuhan seakan-akan merasa malu kepada diri-Nya sendiri, karena Tuhan memberikan tuntunan Agama justru agar manusia memiliki panduan dan cara untuk mengamankan alam dan sesama manusia.”

“Baginda Muhammad adalah manusia jenius, intelektual kelas paling puncak, dijaga dan dituntun oleh Tuhan langsung, oleh karena itu beliau justru berlaku sebagai manusia yang sangat biasa, amat sederhana. Muhammad adalah seorang ultra akademisi struktur berpikirnya, Ulul Albab, Ulun Nuha, Ulul ‘ Azmi — namun sangat rendah hati sehingga ummat manusia menyangka beliau seorang yang awam dan bukan cendekiawan.”

“Evolusi peradaban ummat manusia selama ini saya lihat mengalami tahap-tahap degradasi yang semakin parah. Yang berlangsung dalam evolusi kehidupan manusia adalah replikasi atau pewarisan kualitas-kualitas yang terendah. Di Negeri yang dipimpin oleh Paduka Petruk, yang diwariskan kepada bayi-bayi, kanak-kanak dan generasi muda kebanyakan adalah nilai-nilai yang rendah dari kemanusiaan generasi sebelumnya. Misalnya kecurangan, pengkhianatan, kemunafikan, permalingan, kesempitan pandangan, kedangkalan berpikir, dan nafsu yang berlebihan kepada segala sesuatu yang tidak awet, misalnya harta benda, kekuasaan, dan popularitas.”

“Arep Kiamat wae kok ndadak kengelan koyo ngene. Semua manusia di dunia mengeluhkan ketidakadilan, kekerasan, penindasan, kemiskinan dan kebodohan, yang ujungnya hanyalah kehancuran. Mbok sudah Kiamat saja,” kata Sunan Sableng.

“Tanpa saya mengusulkan percepatan Hari Kiamat pun, ummat manusia sudah mempercepat irama perjalannnya menuju kehancuran dan kemusnahan,” Sunan Sableng menegaskan pendapatnya.

Paduka Petruk tertawa: “Jadi hakikatnya kita sudah meluncur cepat menuju kIamat tho? Jadi untuk apa diusulkan? Toh segera akan sampai dan terjadi”.

Jauh di dalam jiwa kita, ada suara Sunan Sableng. Sementara mulut kita cenderung seperti ucapan Petruk itu.

Kita semua mulai letih Di Rumah Aja. Tetapi Allah tidak pernah capek. “Maka apakah Kami letih dengan penciptaan yang pertama? Sebenarnya mereka dalam keadaan ragu-ragu tentang penciptaan yang baru.” (Qaaf: 15).

Dan kita masih ingin menikmati semua yang pernah dilimpahkan oleh Allah untuk terus dinikmati. Maka kita cemas oleh firman-Nya: “Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu).” (Faatir).

Ya Allah, jangan dong. Please. *****

[Baca selengkapnya  — https://bit.ly/2VPpIdw]

seri Corona 78

Ada Atau Tak Ada Corona
(Corona, 78) Emha Ainun Nadjib

Tulisan saya yang ini sangat terlambat karena saya harus menemui Sabrang, yang menerangkan kepada saya berbagai dimensi fakta, data, pengetahuan, wacana dan kemungkinan solusi-solusi di sekitar kasus Corona. Sabrang menguraikan sangat banyak hal yang saya sama sekali tidak mampu menguraikannya, dari pemetaannya, intra Corona maupun ekstra multiefeknya pada ummat manusia. Menurut sempitnya pemahaman saya sedemikian lengkap dan komprehensif apa-apa yang dipaparkan oleh Sabrang.

Sayang dia bukan stake-holder Pemerintahan, bukan pejabat tinggi Negara, sehingga kurang berguna semua ilmu pengetahuannya itu untuk Bangsa dan Negara. Paling tidak mudah-mudahan sudah berlangsung hubungan, akses, dan komunikasi timbal balik antara Sabrang dengan Simpul-simpul Jamaah Maiyah di semua wilayah.

Mungkin yang bisa dilakukan oleh masing-masing hari ini, salah satunya adalah kembali ke beberapa pertanyaan elementer untuk diteguhkan kembali jawabannya sebagai ketetapan langkah berikutnya. Setiap pilihan jawaban sangat menentukan jalan yang akan ditempuh dan antisipasi perilaku yang akan dilaksanakan.

Misalnya, pertama, kita mau kita sendiri bersama keluarga kita tidak tersentuh Virus Corona, ataukah kita mengutamakan fokus urusan agar seluruh bangsa kita, ummat atau sekurang-kurangnya komunitas kita terhindar dari malapetaka Corona. Bahasa jelasnya: perhatian kita Corona sebagai urusan individu dan keluarga, ataukah urusan se-Negara dan ummat manusia sedunia.

Kalau ini terbatas urusan kita sekeluarga, tinggal lakukan segala hal yang sudah kita ketahui panduannya: jaga kesehatan, kebersihan, jalani PSBB disuruh atau tidak, jaga jarak, tutupi mulut dan hidung ke mana pun pergi, hindari persentuhan dengan orang lain, bahkan dengan gagang pintu, lembaran uang dan apa saja yang Corona bisa numpang melompat ke badan kita.

Kalau ini berkaitan dengan kita sebagai warga dari sebuah Negara, warga dari suatu masyarakat, maka kita juga memikirkan sistem dan formula-formula survivalisme bersama semua rakyat yang terjangkau oleh kita melalui komunalitas dan cluster apa pun: jaringan Jamaah, grup WA, teman klub motor dan mancing, pertetanggaan teritorial desa, atau bentuk komunalitas apa pun.

Kedua, kita ambil cara pandang bahwa kasus Corona ini terkait hanya dengan lingkup kehidupan manusia ini sendiri dengan alam dan proses sosialnya selama ini. Ataukah ia ada hubungannya dengan Tuhan, baik dengan inisiatif-Nya, kehendak-Nya, atau sekadar izin-Nya atas apa yang berlangsung di Bumi.

Yang kedua ini ada pilah: pengalaman Corona kita ini berkaitan erat dengan Tuhan, tetapi bukan Tuhan itu sendiri sumbernya. Ataukah memang sumber inisiatifnya Tuhan sendiri atas kehidupan kita, karena sebab-musabab yang harus kita cari.

Kalau Corona tidak ada kaitannya dengan iradat dan amr Tuhan, maka semua kemungkinan jalan keluar dari masalah ini harus kita cari sendiri. Harus kita sendiri yang menolong diri kita sendiri. Pernyataan Tuhan misalnya “Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal.” (Ali Imran). Firman ini tidak berlaku karena kita sendiri tidak memberlakukannya dengan posisi yang kita ambil. Tidak ada fakta bahwa “Maka Allah, Dialah pelindung (yang sebenarnya) dan Dia menghidupkan orang-orang yang mati, dan Dia adalah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Ash-Shura).

Secara keseluruhan, kalau Corona ini bukan adzab Allah, maka posisi kita adalah meminta tolong kepada Allah. Kalau Corona ini adzab Allah, maka posisi kita adalah memohon ampun kepada Allah.

“Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan adzab yang demikian itu, melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir.” (Saba).

Salah satu tradisi Jamaah Maiyah di setiap Maiyahan maupun di rumah masing-masing adalah berikhtiar agar tergolong yang dimaksud oleh Allah “sedang kamu (Muhammad) berada di antara mereka: Dan Allah sekali-kali tidak akan mengadzab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengadzab mereka, sedang mereka meminta ampun.” (Al-Anfal).

Ilmu, pengetahuan dan lelaku klasik Jamaah Maiyah juga sudah jelas:
Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. “Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, maka Allah akan mengadakan jalan keluar untuk masalah mereka. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (At-Thalaq).

Sebenarnya ada Corona atau tak ada Corona, memang sudah selalu demikian lelaku Maiyah kita.

Baca selengkapnya di https://www.caknun.com/2020/ada-atau-tak-ada-corona

seri Corona 79

Bersembunyi Dari Corona
(Corona, 79) Emha Ainun Nadjib

Buku saya “Dari Pojok Sejarah” adalah buku hasil “lockdown” atau PSBB swasta yang dipaksakan kepada saya atau saya paksakan sendiri kepada diri saya. Buku itu saya tulis pada tahun 1985 di sebuah “kamar hantu” di Oudemal Straat, Den Haag. Dengan menggunakan mesin tik listrik IBM periode awal-awal. Belum ada Komputer, DOS, Xiwright, WS, disket 264 KB atau disket kecil 1,2 MB. Juga belum ada e-mail, Cellphone atau Gadget kata anak sekarang. Jadi no SMS, no WA, apalagi sampai FB dan IG. Atau Zoom atau sekalian Youtube. Habis ngetik harus di-print out, dijilid sendiri, kemudian dikirim per-Pos ke Indonesia.

Sampai hari ini sangat sering saya mengingat-ingat dan mencoba merekonstruksi bagaimana cara berkomunikasi waktu itu. Bagaimana cara kontaknya dulu sehingga saya sampai ke Gereja Protestan Amstelveen, sampai ke Polda Utrecht yang saya gebrak-gebrak mejanya karena tidak memberi saya izin tinggal. “Dulu Kakek kalian masuk Negara saya tidak kulonuwun, terus ngrampok, saya masuk Belanda dengan uang saya sendiri dan minta izin baik-baik.”

Bagaimana caranya kok sebelum Oudemal Straat itu saya punya kost dari Leidsplain ke selatan, mengasuh para gelandangan di Centraal Station Amsterdam, kemudian sambung dengan Pendeta Hoffman dan dikasih satu kamar di Asrama Gereja yang ketika saya datang lagi dengan KiaiKanjeng awal 2000-an Gereja itu sudah menjadi Mal. Bagaimana caranya saya bisa terlibat dalam kontak-kontak untuk mengikuti banyak Seminar, Simposium dan Diskusi, sampai kemudian “mengajar” di ISS (Institute of Social Studies). Kan nggak ada WA atau SMS pun. Saya tetap nulis rutin untuk Kompas dan Tempo entah bagaimana mekanismenya. Saya ikut jamaah di Masjidnya Kiai Ghazali temannya Gus Dur. Saya hapal barang-barang apa yang baru di Pasar Loak dua stasiun sebelum Centraal. Saya tinggal di rumah “bobolan” (karena lebih dua minggu tidak ada lampu menyala) dengan gelandangan Amerika Charles McGeehan, Umbu-nya Amsterdam, yang rajin menerjemahkan puisi-puisi saya ke Bahasa Belanda dan Inggris. Saya ngamen dengan pemain perkusi Afrika Zapa Yauw ke banyak Gallery dan pusat-pusat kesenian. Saya belajar nglinting rokok “Van Nelle” atau “Jongen van Java” Halfzwaar kepada teman Rotterdam yang fasih nglinting rokok sambil nyetir.

Tapi setelah itu ketika permanen sewa kamar hantu di Den Haag, malah “lockdown” beberapa bulan. Aturan yang memaksa saya “lockdown” adalah kondisi keuangan saya. Mau keluar ke mana? Ke Warung atau Restoran Mbah-nya siapa. Ke Toko atau Mal beli “dengkul” apa “bathuk”mu. Thilang-thileng, kethap-kethip di kamar hantu sendirian. Ada hari-hari tidak mampu menulis apa pun karena pikiran ambyar. Nonton TV nggak bisa menyerap. Nonton film ke bioskop karcisnya minta Wak Jan adanya di Menturo. Ke dapur ngliwet, nyeplok, ndadar, ngliwet, nyeplok, ndadar for all seasons. Di luar suhunya dingin meremas tulang daging membunuh daya hidup. Di dalam kamar tak kebagian pemanas.

Andaikan hidup di sel penjara masih lumayan karena ada jam-jam dikasih makan dan banyak teman meskipun harus punya aji-aji Lembu Sekilan untuk menghindari bahaya homoseksualitas dll. Kalau pada 1985 itu muncul Corona dan Belanda malakukan “lockdown”, tidak ada bedanya bagi saya. Sekarang orang sedunia digembok hidupnya di dalam rumahnya masing-masing, dan sesekali saya tersenyum karena di masa muda saya dulu pernah mengalami siang malam gembokan secara lebih ketat dan dahsyat.

Ketika itu saya bisa bertahan karena di dalam memori pengetahuan saya belum ada opsi bahwa orang bisa hidup dalam Gua tapi bisa interneting, browsing, youtubing, kontak siapa saja sedunia pakai SMS, Line atau WA atau e-mail. Bisa lihat dunia sebelah mana saja dan peristiwa apa saja dari telepon genggam. Artinya, kalau sekarang saya disuruh mengalami 1985 itu lagi di luar negeri, mending saya belajar ilmunya Maling Cluring yang bisa berpindah tempat melalui cahaya.

Apalagi antar-Negara, selain melalui surat Pos yang membutuhkan waktu berminggu-minggu. Satu-satunya yang saya ingat adalah “mbobol” telepon umum, bersama komunitas Refugees dan gelandangan di Belanda: hanya dengan koin 1-2 Gulden, kemudian kode-kode tertentu bisa sambung ke Yogya gratis selama mau kita, 1 atau 2 jam. Tapi itu kejar-kejaran dengan Polisi. Dua minggu sekali dioperasi, ketahuan kodenya, kemudian kami nge-crack lagi. Dan begitu seterusnya.

Di rumah PBB Oudemal Straat itu ada telepon umum, tapi mustahil saya dan kami semua mampu interlokal ke Indonesia. Untuk membaca koran Nasional Indonesia atau Majalah mingguan, paling cepat menunggu satu minggu dari tanggal terbitnya. Itu pun royokan di kampus saya; ISS (Institute of Social Studies) yang saya secara ajaib menjadi Pengajar “Culture & Development” dan “Religion & Development” dengan metode embrional Maiyah.

Ketersediaan teknologi yang belum advanced ketika itu merupakan “lockdown” tersendiri. Sabrang dengan Ibunya di Yogya belum tentu bisa makan sehari-hari. Politik Orde Baru membuat sejumlah masalah kepada saya pribadi. Sehabis saya menyelesaikan tugas di “Rotterdam Poetry International”, sebelum saya di ISS, keuangan sehari-hari saya tidak jelas. Ada semacam beasiswa tetapi dua bulan pertama tidak turun. Saat-saat itulah “lockdown” saya menghimpit sedemikian rupa.

Saya menyewa kamar pojok bawah yang tidak kebagian alat pemanas, sehingga siang malam saya pakai mantel dan kerudung seperti Imam Khamenei kesasar, saking dinginnya. Harga normal sewa kamar di rumah itu 350 Gulden, kamar yang saya pilih hanya 175 Gulden berhubung keterbatasan keuangan saya. Belum pernah ada penghuni kamar saya itu dulu-dulu yang tidak kabur, stres berat atau gila, atau bercerai suami-istri. Justru karena itu disewakan sangat murah, dan bagi saya itu “yarzuqhu min haitsu la yahtasib”: Allah menganugerahkan rezeki tak terduga.

Jadi, sesungguhnya apa gerangan yang sekarang hari-hari ini kita takuti? Apakah kita semua ini sedang mengkerut takut kepada virus Corona? Bisa ya, bisa tidak. Yang pasti kita takuti adalah adzab Tuhan. Kalau Coronavirus adalah Coronavirus itu sendirian sih, ayolah sini. Iblis, Dajjal, Setan, Ya’juj Ma’juj, semua monster-monster serem, ayo reneo, rinio. Tetapi kalau Covid-19 adalah taburan dari adzab Allah, itu baru perkara.

“Dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk.” (Ar-Ra’d).

Kita menjalani hidup antara lain untuk mempelajari apa yang kita terima dan apa yang kita tolak. Apa yang kita berani dan apa yang kita takut. Nabi Ibrahim As dan Kanjeng Nabi Muhammad Saw ditawari Malaikat untuk menghancurkan musuh yang membakar beliau dan melempari batu serta meluncurkan anak panah sehingga menyerempet leher kiri beliau. Kedua manusia yang paling dekat kepada Allah itu, Khalilullah dan Habibullah, menolak tawaran Malaikat meskipun itu untuk membelanya. Jawaban beliau berdua sama: “Kalau apa yang engkau kemukakan itu adalah perintah Allah, maka lakukanlah. Tetapi kalau yang engkau tawarkan itu berasal dari dirimu sendiri, terima kasih, jangan lakukan, biarkan saya mengalami apa pun saja yang Allah izinkan untuk aku alami”.

Dengan prinsip yang sama meskipun dengan logika kasus yang terbalik, kita ngeri kalau Coronavirus ini adalah hukuman Allah, bukan sekadar ujian atau peringatan. Kalau peringatan, kita tingkatkan kehati-hatian dan kewaspadaan. Kalau ujian, kita tingkatkan disiplin dan kesungguhan. Tapi kalau hukuman, balasan atau adzab Allah, Jamaah Maiyah dan kita memperdalam rasa dosa kepada Allah, kita hitung, kita petakan dan muhasabahi kesalahan-kesalahan kita, kemudian memohon ampun, bertobat dan bersumpah tidak mengulanginya lagi.

Andaikan Corona tidak datang menjadi saudara bungsu makhluk-makhluk Allah di Bumi, apakah kita terbebas dari kemungkinan sakit dan mati? “Aina ma takunu”.

Sekarang semua Negara di Bumi mengatur cara bersembunyi dari sebaran Corona. Yang paling nyata adalah perilaku manusia dalam Peradaban yang dijalankannya adalah “bersembunyi dari Allah”, Dan semua penghuni langit mentertawakan manusia. Mereka tahu bahwa mereka tidak mungkin bisa bersembunyi dari pengetahuan Allah, tetapi tetap saja mereka berusaha untuk bersembunyi dari Allah. Minimal menipu diri mereka sendiri dengan menganggap seolah-olah Allah tidak mengetahui apa yang mereka sembunyikan.

“Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dialah keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dialah keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di mana pun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (Al-Mujadilah). *****

Baca selengkapnya di https://www.caknun.com/2020/bersembunyi-dari-corona/

seri Corona 80

GEMBIRA DI BALIK CORONA
(Corona 80) Oleh: Emha Ainun Nadjib 

Bagaimanakah sebenarnya fakta kegembiraan? Apakah kegembiraan adalah keadaan hati manusia apa adanya bagi manusia itu sendiri? Ataukah kegembiraan adalah suatu keadaan yang Allah menentukan semestinya itulah yang disebut gembira?

Di dalam Al-Qur`an, wacana tentang kegembiraan atau rasa gembira pada atau untuk manusia selalu dikaitkan atau disebabkan oleh penerimaan manusia atas nilai-nilai yang ditetapkan oleh Tuhan. Gembira adalah kalau manusia mematuhi-Nya dan menjalankan panduan-Nya. Susah adalah kalau manusia melanggar atau mengingkari-Nya.

Jadi bagaimana keputusan ilmu dan ketetapan pengetahuan kita sebaiknya? Apakah kegembiraan adalah perasaan subjektif kita sebagai manusia, ataukah kegembiraan adalah kondisi objektif ketika kita tidak bertentangan dengan kemauan Tuhan?

Mungkin ada gradasi kegembiraan. Mungkin juga ada variabel-variabelnya. Atau ada kegembiraan sementara dan kegembiraan abadi. Ada kegembiraan yang hanya di permukaan jiwa manusia dan ada kegembiraan yang mendalam dan mencenderungi keabadian.

“Sesungguhnya kami takut kepada adzab Tuhan ketika datang suatu hari di mana orang-orang pada bermuka masam penuh kesulitan. Maka Tuhan memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan wajah dan kegembiraan hati.” (Al-Insan).

Bahkan Allah menyebut kegembiraan pada wujud nyata atau hardware-nya, fisiknya yang kasat mata, yakni bermuka masam dan kejernihan wajah.

Manusia yang sedang meminum minuman keras juga bisa ceria wajahnya dan tidak bermuka masam. Lelaki bisa berdua di sebuah kamar dengan seorang perempuan pelacur dan keduanya berwajah riang gembira. Para koruptor juga tidak bermuka masam ketika mengkonsumsi sesuatu yang mereka suka dengan menggunakan uang korupsinya.

Tetapi apa benar itu kegembiraan? Maka soalnya adalah gradasi, sifat waktu yang sementara atau permanen, semu atau sejati. Hanya ada satu firman Allah yang sifatnya ironi atau mungkin bahkan sarkasme: “Maka beri kabar gembiralah mereka dengan azab yang pedih.” (Al-Inshiqaq). Allah ternyata menyindir dan semacam mengejek juga.

Jadi kebudayaan dan peradaban manusia yang selama ini penuh tawa dan riang gembira dengan berbagai macam kemegahan dan kemewahannya — itu sejatinya kegembiraan jenis yang mana?

Sabrang menjelaskan kepada saya bahwa dua abad silam manusia berada di persimpangan jalan untuk memilih “mengembangkan industri non-esensial” yang menggembirakan mayoritas manusia, memutar keras roda perekonomian, ataukah “industri esensial” yang memberi peluang dan dorongan agar manusia mengembangkan dirinya sebagai manusia, tetapi perekonomian lesu, kebanyakan manusia akan miskin.

Manusia memilih yang pertama. Membikin mass-production barang-barang yang sebenarnya tidak esensial bagi kehidupan manusia, barang-barang yang hakikatnya sekunder, ilustratif dan gimmick belaka. Tetapi peradaban manusia jadi punya kemakmuran dan kemewahan serta hedonisme yang hampir tanpa batas. Itulah yang disebut Supermarket, Mal, toko-toko besar, yang kalau Anda seumur hidup tidak pernah memasukinya tak akan rugi apa-apa sebagai manusia, dalam pengertian sebagaimana aspirasi Tuhan dulu menciptakan manusia. Itulah industri entertainment, itulah jurnalisme infotainment, yang menyuguhkan kepada publik berita-berita yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan komitmen terhadap kualitas kemanusiaan. Artis ini bertengkar bab bau ikan asin dengan artis itu. 

Segala macam kabar yang dibesar-besarkan tentang kekonyolan, kecengengan dan kerendahan dari sudut makna bahwa manusia adalah makhluk dengan mutu rohani di atas hewan, bahkan lebih berderajat dibanding Malaikat. Industri iler, umbel ingus yang disebarkan dengan klaim sangat kejam bahwa itulah “selera masyarakat”. Terus ada makhluk di antara manusia yang disebut Selebritis, dengan parameter yang sama sekali tidak mendasarkan diri pada kualitas manusia.

“Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.” (Al-Hujurat).

Kalau Rasulullah menuruti apa yang industri kerendahan itu menyebut “kemauanmu”, maka menurut Allah dalam beberapa urusan kamu akan mendapat kesusahan. Polarisasinya adalah dengan cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu sesuatu yang indah di dalam hatimu. Industri tema-tema konyol dan mubadzir itu mengarang dan mensosialisasikan definisi sendiri tentang keindahan. Itulah mungkin salah satu sebabnya kenapa Allah menganugerahkan Maiyah yang dengan dinamika ijtihad dan amaliyah kegembiraan, keindahan, bahkan kebenaran dan kebaikan yang tidak sebagaimana dianut oleh mainstream pimpinan industri barang-barang konyol dan mubadzir itu.

Ummat manusia abad 20-21 hidup dikepung dan bergelimang produk-produk industri air liur, ingus alias umbel semacam itu. Orang lain bikin kebaikan semassal apapun, keindahan semeriah apapun, atau kebenaran sewaspada apapun seperti Maiyahan di mana-mana, tidak akan dianggap ada karena tidak taat kepada produsen iler dan umbel.

Manusia dianugerahi alat atau mesin atau detektor mutu, kualitas dan derajat tinggi dari keindahan, kebenaran dan kebaikan. “Bal tu`tsirunal hayatad dunya.” Tetapi mereka memilih segala sesuatu yang semu di dalam kehidupan dunia. “Walal akhiratu khairul laka minal ula”. Amat sangat sedikit yang tersentuh oleh informasi bahwa kehidupan berikutnya yang disebut Akhirat itu jauh lebih baik, lebih benar dan lebih indah dibanding dunia.

Tulisan-tulisan yang saya bikin, tidak bisa lain kecuali melaksanakan “Berilah peringatan kepada manusia dan gembirakanlah orang-orang beriman bahwa mereka mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi Tuhan mereka.” (Yunus). Tetapi hampir bisa dipastikan mainstream dunia ini, sebagaimana Allah mengemukakan: “Orang-orang kafir berkata: Sesungguhnya orang ini benar-benar adalah tukang sihir yang nyata.” (Yunus).

Kita di Maiyah sendiri tidak pernah memilih ketegasan untuk menyebut siapapun sebagai “Kafir”, sebagai bentuk kerendahan hati bahwa hanya Allah-lah yang mengerti persis kekafiran manusia. Dan di ayat itu Allah tidak menggunakan eufemisme, malainkan transparansi: “Orang-orang Kafir”.

Maka “fayaumaidzin yafrahul mu`minun”. Bergembiralah anak cucuku yang mengutamakan iman kepada-Nya. “Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.” (Al-Hujurat) *****

[Baca selengkapnya — https://bit.ly/2S8JD62]

Seri Corona 81 (Penutup)

BERENDAH DIRI DAN LEMAH LEMBUT
(Corona 81) Oleh: Emha Ainun Nadjib 

Sejak awal Era Corona ini tiap pagi dan sore saya menuliskan sesuatu untuk Jamaah Maiyah. Seluruhnya dengan yang ini sudah 81 tulisan. Insyaallah saya berniat terus menulis, tetapi saya simpan sendiri, sedangkan untuk caknun.com disepakati oleh Pusat Simpul Maiyah cukup sampai tulisan yang ini. Kecuali ada sesuatu yang sifatnya ekstra penting — tidak seperti 81 tulisan yang sudah mulai disusun jadi Buku namun sebenarnya tidak menambah apa-apa pada Jamaah Maiyah maupun siapa saja yang membacanya. Yang saya tuliskan hanya tanggapan, respons, sedikit perenungan, pencarian makna dan hikmah, atas berbagai dimensi nilai kehidupan yang diangkut oleh peristiwa Corona global ini.

Untuk mempamungkasi segala kemungkinan arti dan peran dari 81 tulisan saya itu, bisa diciduk dari dua firman Allah Swt. Pertama, “Hai manusia, kamu fakir di hadapan Allah, maka kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah-lah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” (Al-Fathir). Kedua, “Kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi. Dan kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan.” (Al-Hadid).

Kalau saya faqir di hadapan Allah, itu artinya sangat luas. Miskin harta benda, buta ilmu dan pengetahuan, tidak berdaya apa pun terhadap segala ketetapan Allah atas kehidupan ini. Maka tentang Corona ini pun, muatan 81 tulisan saya tidak lebih hanyalah kebutaan ilmu dan pengetahuan, serta ketidakberdayaan. Paling jauh hanya niat untuk mencintai dan ikhtiar untuk meringankan hati dan pikiran.

Di salah satu tulisan dari 81 itu saya mengemukakan harapan yang sangat besar dan mendalam kepada para Ulama, para Kiai, utamanya Kiai Khash dan Kiai Musytasyar, para Ustadz, para Ulul Albab, Ulul Abshar dan Ulun Nuha dari kalangan Kaum Muslimin. Agar beliau-beliau berkenan menolong kita semua Kaum Muslimin dan Bangsa Indonesia untuk menemukan jawaban-jawaban atas keadaan yang sedang mendera. Agar beliau-beliau berkenan sowan kepada Kanjeng Nabi Muhammad Saw untuk memohon dhawuh dan fatwa. Agar beliau-beliau bersujud sowan kepada Allah Swt kemudian menyebarkan kepada kita semua hidayah yang beliau-beliau peroleh dari kemurahan hati Allah Swt tentang Corona ini.

Kenapa kita sangat berharap, karena beliau-beliaulah yang punya akses langsung kepada Allah Swt dan Rasulullah Saw. Beliau-beliaulah yang kualitas iman, aqidah, akhlaq dan ilmunya memenuhi syarat untuk kasyaf, dibukakan pintu informasi, pengetahuan, ilmu dan petunjuk dari Allah Swt dan Rasulullah Saw yang amat sangat dibutuhkan oleh Kaum Muslimin dan Bangsa Indonesia, bahkan oleh seluruh ummat manusia di muka Bumi.

Beliau-beliau itu menguasai semua khasanah Islam, dari yang klasik hingga modern. Beliau-beliau sangat mengerti semua deretan Kitab-kitab Kuning, yang kita-kita di Maiyah sangat awam seawam-awamnya.

Di tengah kebingungan rakyat Indonesia dan kegamangan langkah-langkah Pemerintahnya, sungguh sangat kita perlukan hidayah Allah dan dhawuh Kanjeng Nabi yang bisa kita peroleh dari Para Ulama Khash, Ustadz-ustadz cemerlang dan Kiai-Kiai Kasepuhan sejarah bangsa kita. Beliau-beliau adalah Mursyidin kita bersama. 

Selama ini ada semacam kesan dan tuduhan seolah-olah Maiyah dan saya sendiri kurang menghargai sanad-sanad Ilmu Islam. Maiyah terlalu mengakses Al-Qur`an langsung padahal tidak punya posisi kualitatif ilmiah untuk itu. Kurang memperhatikan dan kurang menjunjung pentingnya wasilah ilmu bahwa di antara kita dengan Al-Qur`an ada Kitab-kitab Kuning, ada khasanah Ulama-Ulama. Dan kita semua memerlukan “transformator” itu, karena Maiyah tidak punya kompetensi dan derajat keilmuan untuk bersilaturahmi langsung dengan firman-firman Allah Swt.

Padahal disiplin utama Sinau Bareng Maiyah adalah, misalnya “jauh lebih banyak yang tidak kita ketahui dibanding yang kita ketahui.” “Kebenaran yang kita yakini malam ini bisa kita bantah sendiri besok pagi.” “Penafsiran kita terhadap firman Allah tidaklah sama dan sebangun maknanya dengan firman itu sendiri.” “Rabbana la ‘ilma lana illa ma ‘allamtana.” Sampai-sampai kita minta tolong kepada Marja’ Maiyah, yakni Syeikh Dr. Nursamad Kamba, Cak Ahmad Fuad Effendy dari Majelis Umana’ Kerajaan Arab Saudi, Kiai Ahmad Muzzammil, juga Kiai Abdul Jalil Kudus, pembelajar tekun Kitab-kitab Kuning di induk Pesantren.

Juga sejumlah Marja’ untuk menjadi tempat kita semua bertanya: Kiai Tohar ahli ilmu sosial dan gerakan kerakyatan, Sabrang MDP, pembelajar sabana-sabana komprehensif ilmu-ilmu pengetahuan yang amat luas dan detail wilayahnya. Tidak ada satu kalimat dari saya yang berkaitan dengan Islam, Al-Qur`an dan Rasulullah Saw yang tidak saya rekonfirmasikan atau saya rujukkan kepada para Marja’ Maiyah itu.

Sebagaimana setiap Muslim menegakkan shalat dengan Takbiratul Ihram mengawalinya, antara si hamba itu dengan Allah jangan ada saya, Mbah Nun, Marja’ Maiyah, atau siapapun. Maiyah sangat menghindarkan kemungkinan bahwa kalau Mbah Nun atau Marja’ Maiyah atau siapapun merasa harus ada mereka di antara Allah dengan hamba-Nya yang bersembahyang, apalagi dengan alasan legitimasi keilmuan atau kompetensi keagamaan — maka jangan-jangan kemungkinan itu yang dimaksud oleh firman Allah: “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit atau murah, mereka itu sebenarnya tidak memakan, tidak menelan ke dalam perutnya melainkan api neraka, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak mensucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih.” (Al-Baqarah).

Sesungguhnya sub-tema di alinea itu, adalah hasil ijtihad Sabrang yang diungkapkan kepada saya. “Al-Qur`an langsung dari Allah, dan akal pikiran manusia juga langsung dari Allah. Kalau ada variabel yang lain, misalnya otoritas Kitab Mbah Nun atau Kiai Muzzammil, yang terlibat dalam komunikasi Rahman Rahim itu, malah ada kemungkinan atau peluang untuk bias, ambigu, meleset, malpraktek atau bahkan bisa jadi sesat, minimal karena disotentisitas prosedurnya,” kata Sabrang.

“Orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka. Maka pada hari (kiamat) ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini, dan sebagaimana mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami.” (Al-A’raf). Betapa mengerikan kita diloloskan masuk dan bertempat tinggal di Sorga tapi Allah ogah menyapa kita. Bahkan tidak melirik ke kita barang sekejapan mata. Tentu lebih mengerikan lagi kalau ternyata konsumsi saya adalah api neraka karena ada Jamaah Maiyah membaca Al-Qur`an kemudian merenunginya dan menjadikannya manfaat dalam hidupnya, lantas saya marah dan menuduhnya sesat karena dia mengakses Al-Qur`an langsung tanpa melewati saya.

“Wa ilallahi turja’ul umur”. Dan kepada Allahlah kembalinya semua urusan. “Ila Rabbika muntahaha.” Kepada Tuhanmulah dikembalikan kesudahannya atau ketentuan waktunya. Juga Corona. Jamaah Maiyah mengkhusyuki tuntunan Allah Swt: “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Al-A’raf). Membersamainya dengan mendidik jiwanya masing-masing, akal pikiran dan kelegawaan hatinya untuk merasukkan informasi Allah: “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” (Al-‘Ankabut).

Hidup di dunia ini tak akan pernah berpengetahuan lengkap karena belum mengalami kematian. Maka seluruh manusia pasti salah sangka terhadap kematian, bahkan kebanyakan suudhdhon kepada kematian, sehingga tak seorang pun yang tidak menolak kedatangannya serta sangat takut kematian. Padahal, kalau memang beriman, bukankah sudah terang benderang pemberitahuan Allah Swt:

“Maka perhatikanlah bekas-bekas rahmat Allah, bagaimana Allah menghidupkan bumi yang sudah mati. Sesungguhnya (Tuhan yang berkuasa seperti) demikian benar-benar (berkuasa) menghidupkan orang-orang yang telah mati. Dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Ar-Rum: 50)

[Baca selengkapnya — https://bit.ly/2VElWol]